Laman

Jumat, 29 Mei 2015

Sebulan sebelum setahun bersama, kita berpisah!

Seseorang pernah berkata, “how lucky she is, disayangi dengan begitu dalamnya, dikasihi dengan begitu manisnya.”

Hari ini adalah dua hari terakhir dipenghujung bulan penghujan, mei. Menulis inipun sebenarnya aku tak begitu ingin, rasanya malas, muak dan membuatku seakan ingin muntah. Tapi, rasa malas itu tertendang seketika ketika dengan tidak sengaja tangan ku membuka sebuah folder bernama “island” berisi 716 object foto. Satu persatu ku buka, harus kuakui kegelian seketika menggelitik perutku, bibir ku tak henti mengeluarkan suara tawa, meski kecil. Sampai pada akhirnya, setetes bening hangat jatuh perlahan, berkaca-kaca merenggut tawa.

Hari ini, kuingat lagi luka yang semalam baru tercipta sebelum luka lama beranjak sembuh. Gelap dan 2 tungkai kaki yang menjadi saksi, tetes demi tetes sang hujan yang menyatu dengan hujan air mata, dan bunyi ratusan klakson yang meredam isakan tangis sesunggukan sepanjang jalan. Kau melewatkan ku, kau melewatkanku!
           
Kemarahan mu waktu itu tidak menjadi alasan kuat untuk berlaku tidak adil untukku, kemarahan, kekesalan mu waktu itu tidak berhak melukai ku terlalu dalam seperti yang kau lakukan ini, kau melewatkan ku dan ini bukan kali pertama kau melakukannya. Bohong bila aku tak menoleh kebelakang sepanjang jalan, palsu bila aku tak berharap-harap cemas dalam hati, barang kali kau akan memintaku untuk berhenti meski lewat telephone sekalipun. Tapi, aku hanya si pungguk yang merindukan sang bulan!

Kita pernah bersama, sebelas bulan lamanya. 334 hari lamanya.

Sungguh, menjadi tanya besar, dimana letak salah ku yang paling fatal sehingga kau begitu dengan mudahnya melukai ku, membiarkan seseorang yang pernah kau janjikan kebersamaan dalam hal apapun itu, membiarkan pergi seseorang yang pernah menjadi teman bicara mu mengakhiri malam di ujung telephone, seseorang yang pernah menjadi teman bertengkar mu dalam menilai sesuatu, seseorang yang pernah kau buat dan membuat mu tertawa, seseorang yang pernah kau buat cemburu dan membuat mu cemburu, seseorang yang rela menghabiskan waktu melakukan hal-hal konyol dengan mu, seseorang yang pernah meminta mu untuk tidak pergi meski akhirnya kau memilih pergi, tanpa ucapan berpisah sekalipun.

Untuk apa membuat dirimu seolah-olah terlihat bodoh demi mengetahui segalanya, meski tanpa berlaku seperti itu pun kau akan tetap tahu isi sebuah hati yang ingin kau tahu leih mendalam. Jangan membuat ku seperti pembohong. Jangan pula memintaku untuk berlakon seperti bintang sinetron yang dengan pandai nya mendramatisir segalanya. Aku bukan pesinetron yang handal. Aku tak bisa.

Baik, aku sudah lupa berapa kali memintamu untuk tetap tinggal, aku lupa sudah berapa kali meyakinkan mu bahwa menunggu kepulangan seseorang yang tidak menjadikan ku rumah adalah hal yang menyedihkan, sampai-sampai aku lupa, kau pun tidak akan pernah meletakkan sebentar saja gengsi dalam dirimu, aku lupa, kau bisa mati tanpa gengsi itu, ya aku lupa.

Pergilah, ini kesempatanmu berlari jauh bila memang kau sudah tak ingin berlama-lama dengan ku. Pergilah, tidak perlu kembali. Aku akan menata hidup ku kembali lagi dari awal. Pergilah, ku sanggupi perpisahan yang aku sendiri tidak tau siapa yang memintanya lebih dulu.



            Pergilah, bdtpsk! Maaf untuk segalanya.


Untukmu, Hitam.
Perempuan berjari mungil ukuran 15. a.k.a RS
dari, grllcklt yang bersalah.

Rabu, 08 April 2015

Ibu, aku ingin pulang.

            Dingin.

            Sunyi.

            Gelap.

            Mimpi itukah lagi? Aku merapatkan kedua tanganku, menggesekkan satu dengan yang lain, demi kehangatan semu menepis dingin. Sia-sia, tubuhku kian menggigil. Aku mulai membeku. Kepala ku berat, mataku tak mampu melihat jelas, tapi pada satu titik kudapati sebuah cahaya putih, dan dibalik cahaya itu berdiri seorang pria, tidak itu seperti wanita, ahh entahlah. Sosoknya mengulurkan tangan, apa maksud uluran tangan itu? Segalanya mendadak berubah menjadi samar-samar, semakin gelap. Dan, aku lupa.

            Akhir-akhir ini, tidurku tak begitu lelap.

            Otak ku mulai berfikir keras, apa maksud dari mimpi tak jelas itu, apa ada hubungannya dengan tumpukan rindu yang semakin menggunung belakangan ini. Mengenai rindu seorang gadis yang beranjak dewasa kepada wanita paruh baya yang seharusnya masih ada, namun ternyata telah pergi tanpa pamit meninggalkan puteri kecilnya yang saat itu tak mempunyai nama?

           Siapa sosok yang hadir dalam cahaya itu? Kau kah itu, Ibu?

          Kau kah itu, Ibu? Ibu yang tak kukenal bagaimana rupanya, ibu yang tak kutahu namanya, ibu yang tak kutahu bermargakan apa dan bersuku apa, ibu yang tak pernah kurasa airsusunya, ibu yang tak pernah memukul bokongku, ibu yang tak pernah mengepang duakan rambutku, ibu yang tak pernah mencium keningku sebelum tidur malam, ibu yang tak pernah membacakan aku dongeng tentang sikancil, ibu yang tak pernah mengajarkan ku mengucap kata “I B U”. Kau kah itu, Ibu? 

          Kau kah itu, Ibu? Ibu yang tak kutahu dimana pusaranya, ibu yang tak pernah kutaburi bunga pada pusaranya. Kau kah itu, Ibu? Kau kah itu?

            Ibu, bila itu memang kau untuk apa mendatangiku? Apa maksud uluran tangan itu? Kau mengajakku?
           
           Apakah kau mulai tersiksa melihatku yang kau tinggal sendiri disini berjuang seorang diri? Atau, kau sudah bosan melihat airmata yang tiada hentinya menetes ini? Ibu, andai kau tau sungguh kekuatan ku mulai terkikis habis, kuatku tak berharga untuk mereka yang kuanggap penting, kuatku tak ternilai untuk mereka yang kuanggap berharga.

            Bolehkah ku sambut uluran tanganmu, itu?

            Ibu, aku ingin pulang. Bolehkah?

            Mereka semua jahat. Ya, Jahat.




Dari aku yang mengaku puterimu, yang kerap kau kunjungi dalam gelap
aku akan mengirimimu surat lagi setelah ini
akan kuceritakan lebih banyak lagi
agar kau tau sekuat apa aku, dan selemah apa aku.

Senin, 06 April 2015

Untukmu, Pria berkuda besi.

Untukmu, Pria berkuda besi merah.

Ditempat itu, tempat pertama kali kita bertemu. 
Baris kelima di sebelah kiri, tempat dimana aku menemukan mu, ketika aku membuka mata selepas mengucap salam pada-Nya. Sebelumnya, aku tak begitu suka duduk ditempat itu, tapi karena ayahku menyukainya, aku bisa apa?
Baik, harus ku akui sekarang. Aku mulai menyukai tempat itu, karenamu.

Kau tau, tuan?
Belakangan ini kau begitu banyak menyita perhatianku, diam-diam, kau menyusup masuk dalam dunia kecilku. Memikirkanmu sajapun sudah menjadi salah satu list pada daftar rutinitas yang harus kulakukan setiap harinya, sekarang. Lihatlah, betapa tak ingin kalah nya kau, tuan.

Semalam, aku mencarimu ditempat biasa, diparkiran sebelah kanan, tempat mu biasa memarkirkan kuda merahmu. Kau kemana? Mengapa tak datang? Ya, aku mencari mu.

Tuan, sulit untukku menjelaskan secara gamblang, apa hal yang membuatku menunggu mu, yang jelas semenjak malam natal tahun lalu, ketika aku ada ditempat itu, aku juga begitu berharap kau juga ada ditempat yang sama denganku. Jujur, aku tidak begitu mengenalmu, bahkan hal kecil dari dirimu pun aku tak tahu. Nama mu, aku tak tahu. Mungkin, sebahagian besar orang akan menertawakan keanehan ku ini, menganggap ku perempuan aneh, yang memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkan ku juga. Tapi, tuan, salahkah perempuan aneh seperti ku ini mengagumi salah satu hasil karya tangan Tuhan, sepertimu?

Aku memang tak mengetahui banyak hal tentang mu, yang kutau, kau adalah pria menggemaskan yang sosoknya selalu kurindu pada setiap hari minggu, yang kerap menghadirkan letupan-letupan kecil dihatiku. Yang kutau, kau pria berkuda besi berwarna merah, dengan penutup kepala fullface berwarna hijau. Dan, yang lebih kutahu, kau adalah pria pecinta kitab suci, kidung nyanyian, dan pecinta Tuhan-Mu, sama seperti ku.

Waktu lalu, aku sempat berfikir, kau hanya laki-laki  biasa yang menjual tampang dan memamerkan kuda besi untuk memikat hati perempuan-perempuan seperti kebanyakan yang terjadi, namun, kau memperlihatkan ku sebuah fakta yang berbeda, berkali-kali secara tak sengaja aku melihatmu dengan kedua tangan tergenggam tengah asik bercerita dengan-Nya. 

Jumat lalu, tepat hari dimana saat perjamuan kudus tengah berjalan, ingat kah kau, tuan? Ketika aku menyibakkan rambut dan menoleh kearah belakang, kita bertemu, lagi. Dengan kemeja hitam bergaris putih, dengan tataan rambut baru mu itu, kau berdiri menunggu giliran menerima roti dan anggur, sepersekian detiknya kita memiliki kesempatan untuk menatap satu dengan yang lain, kala itu tuan, andai kau tau jantungku berdegup lebih kencang. Aku bergetar, kali itu lebih hebat dari sebelumnya. Kau rasakah?

Tuan, bisakah kau jelaskan perasaan apa ini?



Untukmu, Pria berkuda besi berwarna merah.
dari, wanita aneh berambut pirang yang menunggumu setiap Minggunya.

Rabu, 14 Mei 2014

Bukan Terjebak Nostalgia.

Sudah sangat lama, sudah berbau busuk, mungkin. Tulisan ini mungkin hanya seonggok kisah kelam, yang sudah abu-abu dan memudar dalam memory ingatanmu. Haaah, jangankan kisah kita, wajahku saja pun mungkin telah samar-samar untuk dapat kamu kenali. Sore yang berhujan ini, aku memberanikan diri untuk menaikkan mu dalam tulisanku, aku tak ingin memendam mu hanya didalam sisa bagian terkecil hati yang kerap kamu singgahi beberapa waktu belakangan ini tanpa undangan resmi berpita merahjambu.

Sabtu, 01 Maret 2014

Dinar Alam w/ Alm Nadya Azzahra♥

hello Friends, kali ini gue bakalan berbagi kisah yang pastinya banyak sedikit kaum pecinta udah pada tau dong pastinya, daaaan asli fix maksimal yes cerita kisah percintaan mereka itu ngeharu-able bingits lo! Siapa lagi kalau bukan Dinar Alam w/ Alm Nadya Nacil, hmmm kenapa ada Alm didepan nama Nadya Nacil ? sabar, gue bakal tulisin setau gue deh, read this carefully guys ;;)

Sabtu, 01 Februari 2014

A Man with His Fucking Bitch

          Biasanya pertengkaran yang terjadi antara dua orang yang menjalin persahabatan, hanya akan menjadi penambah bumbu sebagai pelengkap dalam persahabatan tersebut, tanpa pertengkaran kecil, apa jadinya sebuah persahabatan, seperti sayur tanpa garam, hambar.

            Tapi, kali ini ada yang berbeda dengan Alex. Aku mulai tak mengerti jalan fikiran nya, aku seperti tak mengenal nya, entah apa yang salah dengan persahabatan yang kami bina semenjak duduk dibangku perkuliahan 2 semester lalu.


Selasa, 31 Desember 2013

aku dan mereka yang kusebut kawan ( penghujung 2013 )

31-12-2013 , Wow ..
penghujung 2013 , yang disebut-sebut sebagai tahun naga (katanya) , tahun yang kata nya juga nih ya yang berbau angka keramat 13 yang artinya terdapat sedikit banyak nya kesialan , huh entahlah ..

oke, lets give thanks to the God karena sampai di penghujung tahun ini kita masih dikasih nafas secara cuma-cuma , hoho baik banget ya Tuhan kita :)
nah untuk para reader sejati nya aku , aku mau ngucapin selamat hari natal dan selamat tahun baru 2014 , harapan sih selalu ada semoga kita kedepan nya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi , (Amin-amin-amin) sekalian maaf-maafan deh kali aja selama ini aku ada salah , dimaafin ya ;)