Laman

Sabtu, 01 Februari 2014

A Man with His Fucking Bitch

          Biasanya pertengkaran yang terjadi antara dua orang yang menjalin persahabatan, hanya akan menjadi penambah bumbu sebagai pelengkap dalam persahabatan tersebut, tanpa pertengkaran kecil, apa jadinya sebuah persahabatan, seperti sayur tanpa garam, hambar.

            Tapi, kali ini ada yang berbeda dengan Alex. Aku mulai tak mengerti jalan fikiran nya, aku seperti tak mengenal nya, entah apa yang salah dengan persahabatan yang kami bina semenjak duduk dibangku perkuliahan 2 semester lalu.


            Semakin hari Alex semakin berubah, kami yang biasanya akan menghabiskan waktu pulang kuliah dengan berkeliling dengan sepeda motor ku, kini semakin jarang melakukannya, kami mulai banyak diam, obrolan yang biasanya juga kami lakukan melalui BBM juga semakin jarang ada.


            Satu minggu ini kesibukan ku yang cukup padat di Universitas juga menjadi salah satu penyebab aku dan Alex semakin jarang bertemu, paling sesekali saja secara tidak sengaja aku  menangkap sosok Alex yang pulang kuliah berbarengan dengan kekasihnya, Ananda.

            Mengenai Ananda, aku kembali mengingat pertengkaran yang sabtu minggu lalu terjadi antara aku dan Alex, kurasakan ada yang bergerak dalam rongga dada ku, ada perasaan yang tak bisa aku jelaskan dengan ribuan bahkan jutaan kata-kata, sakit. Aku masih ingat bagaimana raut muka Alex saat terang-terangan mengatakan bahwa aku terlalu penilai, aku sok sempurna, padahal aku bukan apa-apa dibandingkan dengan dia, ya, Ananda.
                      
            Rasa sakit ku saat mengingat itu segera sirna, tak kala Putri salah satu rekan ku dalam Badan Eksekutif Mahasiswa menegurku dan mengajakku pulang.

             “Kamu gak pulang Gin? Ngelamun aja, hush nanti kesambet baru tau rasa! Pulang bareng aja yuk?”

            “Ah, siapa yang ngelamun, kamu ini sok tau. Kamu duluan aja, aku masih ada kerjaan, sebentar lagi selesai..”

            “Oke, aku duluan ya, see you tomorrow..”

            Aku hanya tersenyum membalas perkataan Putri, aku berbohong, sebenarnya tak ada pekerjaan lain yang masih harus aku selesaikan, aku hanya ingin pulang sendiri. Aku segera merapikan meja ku, mengambil tas lalu merogohnya dan yap, aku menemukan handphone ku. Ku tutup ruang BEM, lalu bergegas ke luar gerbang mencari angkutan umum kota, berhubung hari ini aku memang tak membawa motor.

            Seperti biasa aku rajin memeriksa Recent Updates pada aplikasi BBM ku, ah, selalu saja manusia-manusia sok update yang selalu mempublikasikan hal-hal yang menurut ku tak begitu penting, dasar manusia-manusia aneh!

            Jari dan mataku reflex berhenti saat ku temukan satu nama, Alex. “ Ananda, I love you” --- 30 menit yang lalu. Hampir saja aku kulemparkan ponsel ku, kalau saja tak mengingat sekarang aku berada dalam angkutan umum. Aku makin tak habis fikir apa yang membuat Alex se-lebay ini mengagumi wanita itu.

            Sesampainya dirumah, kurebahkan badan ku, fikiran ku masih bergelut pada personal message Alex, sebegitu mempesona kah wanita itu? Apa perlakuan nya terhadap Alex selama ini tak cukup menjadi bukti bahwa wanita itu tak pantas untuk nya, bagaimana mungkin seorang Alex tertutup matanya hanya karena wanita yang baru dua bulan ia pacari, segala kekesalan yang tak lagi mungkin aku katakan langsung pada Alex hanya ku pendam, sebagai pelampiasan, aku membuat personal message dan berharap esok atau lusa, Alex akan sadar.
             A Man with His FuckingBitch ! “ ­­--- Baru saja.
            Untuk malam ini, lagi-lagi aku beristirahat tanpa ucapan selamat malam dari Alex, sudah hampir seminggu kami saling berdiam-diri, tidak bertegur-sapa, aku sadar aku merindukan nya, tapi apa dia merindukan ku? Apa aku masih satu-satu nya sahabat dalam hidupnya, atau aku kini menjadi musuh dalam hidupnya? Kututup muka ku dengan bantal hello kity pemberian nya waktu ulangtahun ku tahun lalu, mata ku perih, pipi ku basah, aku merindukan nya, aku merindukan Alex.




            Kamis yang cerah, semoga menjadi hari yang menyenangkan.

            Pagi ini, aku memutuskan untuk mencari udara segar di taman sebelah barat kota, sendiri. Berhubung tak ada tugas kuliah, dan tak ada jadwal ngumpul anggota BEM, biasanya kalau hari kosong seperti ini, aku sudah ada di kontrakan Alex, mencari cemilan, atau akan bercerita apa saja yang bisa menghabiskan waktu semalaman.

            Aku menyeruput jus alpukat yang aku pesan tadi, ku ambil ponsel ku, ku cek kembali recent updatesnya, ada nama Alex.  “ Udah pukul 09 , Tapi si dia belum ada kabar, apa dia sakit? Nomer telepon juga gak bisa dihubungin “  ---- 21 menit yang lalu.

            Dasar lebay, maki ku dalam diam. Kuletakkan kembali ponsel ku kedalam tas, ku nikmati udara segar yang berhembus lumayan kencang hari ini, mata ku pun mulai asyik menatap tontonan anak-anak kecil yang tengah berkejar-kejaran menangkap belalang, lucunya. Tapi tunggu, disebelah pojok taman itu seperti nya aku mengenal seseorang, empat orang pria, dua orang wanita, salah satu dari wanita itu, aku mengenalnya, Ananda. Tidak salah lagi itu Ananda.

            Sedang apa dia disini, dengan pria yang disampingnya itu, kulihat tangan Ananda menggandeng tangan pria berpenampilan preman pasar beranting di telinga kirinya dan berambut mowhak itu. Kulihat tawanya meriah dan tingkah manjanya pada pria itu, pria itu bukan Alex, dan dugaan ku benar, Ananda bukan wanita baik-baik, dia tak lain wanita sok suci, sok polos, dan murahan!

            Otak ku tak berfungsi normal, aku gelagapan, aku marah, kudatangi terang-terangan mereka yang membuat ku tak bisa menahan emosi.

            “Dasar cewek freak! Ternyata selama ini aku emang gak salah nilai kamu, selama ini kamu memang berhasil buat aku sama Alex renggang, tapi kali ini jangan mimpi, aku bakalan bilang sama Alex kalo kamu itu udah selingkuh! Sama cowok berandalan yang gak sebanding sama dia!!!”  Tukas ku garang.

            “Apa? Cowok berandalan? Seenaknya jidat aja ngomong nya, berani sama aku?”   Jawab pria yang sedari tadi bergandengan tangan dengan Ananda dengan marah.

            PLAKK!!!

            Sebuah tamparan keras mendarat dipipiku, sakit sekali. Ingin menangis tapi ini bukan saatnya untuk nunjukin kalau aku takut sama mereka.

            “Eh, kamu Gin, wah gak nyangka ketemu disini, sama siapa? Sendiri ya? ”             Tanya nya seperti tidak bersalah.

            Aku masih diam dan kaget terhadap tamparan yang baru saja mendarat dipipiku, aku cuma dengar saat itu Ananda sedikit kesal karena pria itu menamparku.

            “Gina, kamu gak apa-apa? Maafin temen aku ya..”    kata nya lagi.

            “Gak usah sok dekat sama aku, aku gak akan tinggal diam ngelihat kamu ngekhianatin Alex kayak gini, ingat itu!”     Ancam ku, lalu pergi.

            “Heh, Regina Clara, kamu gak perlu sok-sok jadi pahlawan deh, kamu gak akan berhasil, ingat itu!”             jawabnya membalas ancaman ku.

            Aku pergi lalu membayar jus yang tadi kupesan, ku putuskan sesegera mungkin menemui Alex, harus!

**
      “Apa yang kau lakukan disini?”         Tegur Alex yang ternyata berada di teras kontrakan nya mengagetkan ku.

            “Aku .. aku, aku harus bicara penting dengan mu, ini mengenai Ananda.”

            “Apa lagi? Masih ingin mencela dia sebagai wanita yang gak baik-baik.. Sudahlah, aku tak punya waktu meladeni kegilaan mu.”

            “Tapi Lex, kali ini aku..”

            Ucapan ku terpotong ketika Ananda tiba-tiba sudah berada dibelakang Alex, sejak kapan dia ada disini, bukannya tadi dia masih ditaman, brengsek.

            “Sayang, siapa yang datang? Loh Regina, mau apa lagi kesini? Mau ngefitnah aku didepan Alex lagi? Cukup ya tadi kamu udah ngelukain aku, kamu ini gak ada bosan nya ya ngerecokin hubungan kita berdua!!”      cerocos Ananda membuat ku geram.

            “Lex, kamu harus dengerin aku, tadi aku ngelihat Ananda di taman, aku ngelihat dia…”

            “Ngelihat dia jogging bareng temen-temen nya, terus kamu datangin, kamu bilang sama dia, kalau dia ngerebut aku dari kamu, kamu ngedorong dia sampai jatuh, itu yang mau kamu bilang? Iya? HAH?”

            “Apa? Aku ngedorong dia? Jogging? Ngerebut? Apa-apaan ini? Kamu salah Lex, justru aku yang kena tampar, lihat pipiku ini, dia bohong Lex, please dengarin aku, dia selingkuh sama cowok brandalan, mereka pegangan tangan, mereka…”

            “Stop, Regina. Segitu benci nya kamu sama aku, kamu fitnah aku sampai gini banget, kamu datang tiba-tiba ke aku, kamu ngedorong aku, tapi kamu bilang aku nampar kamu, aku gak nyangka kamu sepicik ini… “ Potong Ananda.

            “Cukup, gak perlu ngedramatisir suasana gitu, dasar saiko!”             teriak ku marah.

            BRUKK!!

            Aku terjatuh, aku kaget. Alex mendorong ku, Alex mendorong ku dengan tangan nya sendiri.

            “Cukup ya Gin, aku udah muak sama kamu, berhenti bilang Ananda saiko, yang saiko itu kamu, mulai detik ini aku gak mau ngelihat muka mu, kamu itu aneh, kamu gak rela kalau aku pacaran sama Ananda, kamu mau cuma kamu lah satu-satunya perempuan yang bisa dekat sama aku, kamu mimpi. Sekarang pergi dari sini!!”       Usir Alex dengan garang.

            Aku bangkit dengan perasaan hancur, kulihat senyum kemenangan dari raut muka Ananda.

            “Baik, aku akan pergi, aku gak akan ngurusin lagi apapun tentang kamu, tapi aku bersumpah, saat kebenaran terungkap nantinya, gak akan ada aku lagi disamping mu, aku bersumpah untuk tidak menganggap mu pernah ada dalam hidup ku, aku bakalan melupakan kalau kamu pernah jadi sahabat buat aku, aku benci kamu, aku benci kamu Alex Ginanjar!”

            Aku pergi, yang disusul dengan  panggilan Ananda.

            “LOSER!”      Ucap Ananda dengan mengacungkan jempol terbalik kearahku.


 ***

            Sudah sebulan aku dan Alex resmi berstatus musuh, aku tak akan lupa bagaimana Alex mendorong ku waktu lalu. Sampai pada hari dimana secara gak sengaja aku bertemu lagi dengan Ananda dan Alex di suatu pusat perbelanjaan, dengan suasana berbeda, ada raut kekecewaan dalam muka Alex, aku penasaran, kuikuti mereka dengan mengendap-endap, sampai ku dapati suara Alex yang meninggi.

            “Jadi ini yang kamu sakit lagi terus mau check-up? Ini yang namanya rumah sakit, sejak kapan check-up di Mall dengan laki-laki bergaya brandalan seperti itu hah?!”

            “Lex, kamu salah paham. Aku memang harus check-up, tapi jadwal check-up nya ditunda sampai besok, aku pergi ke sini, cuma pengen beli kado buat kamu, bentar lagi kamu ulang tahun kan?”

            “Oh, hebat. Mau beli kado untuk ku bersama laki-laki itu, sekarang coba aku tanya, tanggal berapa aku ulangtahun? Tanggal berapa?! Jawab!!”         bentak Alex.

            “Tanggal… tanggal…”

            “Tanggal berapa! Jawab Ananda Sagita!”

            “Maafkan aku lex, aku memang lupa. Tapi sungguh, aku ingin membelikan mu kado, kamu gak bisa apa lihat pengorbanan aku, aku sakit tapi aku bela-belain beliin kamu kado, tapi kamu malah bentak-bentak aku. Kamu tega!”

            “Apa kamu juga gak bisa lihat, dengar kamu harus check-up ulang, dengar kamu sakit lagi, aku bela-belain tinggalin urusan aku di kampung, pas aku sampai di dipersimpangan depan rumah kamu, aku malah ngelihat kamu boncengan sama laki-laki itu, kamu meluk dia, aku buntutin kalian kesini, dan kamu masih mau bohong!”

            Kulihat Ananda semakin gelisah, air matanya mulai jatuh. Alex semakin garang, dia beranjak pergi, kulihat Ananda mengerjarnya.

            “Lex, maaf. Aku memang bohong padamu, aku akan jujur tapi tolong berjanji untuk tidak meninggalkan aku…, aku memang berbohong, aku memang sedang dekat dengan laki-laki itu, namanya Jonathan. Aku tak serius dengan nya Lex, aku cuma iseng, tak lebih. Ku mohon percayalah”             Isaknya.

            “Jadi selama ini kamu menipu ku, lantas dengan penyakit mu? Apa itu semua juga bagian dari scenario mu? Jawab aku dengan terus terang Ananda”

            “Maafkan aku sayang, aku memang berbohong, tapi semua itu kulakukan supaya kamu gak ninggalin aku, aku takut kehilangan mu, itu saja, apa aku salah lex?”           Jawab Ananda, yang benar-benar membuat aku syok begitu pula dengan Alex.

            “Dasar Gila, kamu menipu ku sebegini dalam, kamu ngeduain aku, dan laki-laki itu, apa laki-laki itu yang Regina lihat waktu itu? Aku gak nyangka kamu sepicik dan sekotor ini, kamu membuatku melakukan kesalahan dengan menyakiti Regina, penyakit dan perselingkuhan yang kau buat sebagai alat perusak untuk menjauhkan ku dengan Regina tak akan mungkin termaafkan, mulai saat ini kita PUTUS!! Aku tak ingin menjalin hubungan dengan seorang perempuan hina seperti kamu”

#

            Aku benar-benar syok mendengar semua kata-kata yang kudengar tadi siang, tapi aku juga merasa senang, Karena pada akhirnya kebenaran terungkap. Aku asik dengan novel yang baru aku beli tadi siang di mall, sampai seseorang mengagetkan ku, dan itu Alex.

            “Gina?”           Tegur Alex.

            “Kamu, sedang apa kamu disini, aku tak punya waktu, aku sibuk!”

            “Gina, apa aku masih pantas mendapat maaf dari mu, apa aku bisa menjadi satu-satunya sahabat mu lagi?Apa aku..”

            Alex tak langsung melanjutkan perkataan nya.

            “Maaf, pergilah, aku tak ingin bicara dengan mu lagi, tolong tinggalkan aku!”
            “Tapi, aku sudah tau segalanya tentang Ananda, aku tau dia telah memecah belah kita, aku mengaku salah… aku minta maaf Gin.”

            “Aku juga tau, aku tak sengaja mendengar percakapan kalian tadi siang di mall, aku senang akhirnya mata mu terbuka, aku senang segalanya terungkap…” Ucapku sambil tersenyum.

            “Ya, aku salah. Aku minta maaf Gin, apa kita bisa kembali seperti dulu?”   tanyanya.

            Aku tak langsung menjawab pertanyaan nya, hati ku berkecamuk, aku ingat bagaimana dia menyebut ku saiko, lalu mendorongku tanpa membantu ku untuk berdiri lagi. Hati ku masih perih.

            “Gina, tolong jawab aku… “  desak nya.

            “Alex, aku tak bisa terima kalau kau yang begitu aku percaya tapi tidak sebaliknya, badan ku tak terlalu sakit saat kau mendorongku waktu itu, tapi hatiku? Telinga ku serasa akan pecah saat kau katakan aku ini perempuan saiko. Kumohon, jangan ganggu aku lagi, lupakan perempuan saiko ini, A Man with his Fucking Bitch sudah berakhir, begitu pula A man with his Friendship, sudah berakhir juga.”        Ucapku seraya berjalan meninggalkan Alex dengan sejuta penyesalan nya.




            *END