Dingin.
Sunyi.
Gelap.
Mimpi itukah lagi? Aku merapatkan kedua tanganku,
menggesekkan satu dengan yang lain, demi kehangatan semu menepis dingin. Sia-sia,
tubuhku kian menggigil. Aku mulai membeku. Kepala ku berat, mataku tak mampu
melihat jelas, tapi pada satu titik kudapati sebuah cahaya putih, dan
dibalik cahaya itu berdiri seorang pria, tidak itu seperti wanita, ahh
entahlah. Sosoknya mengulurkan tangan, apa maksud uluran tangan itu? Segalanya mendadak berubah menjadi samar-samar, semakin gelap. Dan, aku lupa.
Akhir-akhir ini, tidurku tak begitu lelap.
Otak ku mulai berfikir keras, apa maksud dari mimpi tak
jelas itu, apa ada hubungannya dengan tumpukan rindu yang semakin menggunung
belakangan ini. Mengenai rindu seorang gadis yang beranjak dewasa kepada wanita
paruh baya yang seharusnya masih ada, namun ternyata telah pergi tanpa pamit
meninggalkan puteri kecilnya yang saat itu tak mempunyai nama?
Siapa sosok yang hadir dalam cahaya itu? Kau kah itu,
Ibu?
Kau kah itu, Ibu? Ibu yang tak kukenal bagaimana rupanya,
ibu yang tak kutahu namanya, ibu yang tak kutahu bermargakan apa dan bersuku
apa, ibu yang tak pernah kurasa airsusunya, ibu yang tak pernah memukul bokongku,
ibu yang tak pernah mengepang duakan rambutku, ibu yang tak pernah mencium
keningku sebelum tidur malam, ibu yang tak pernah membacakan aku dongeng tentang sikancil, ibu yang tak pernah mengajarkan ku mengucap kata “I B U”. Kau kah itu, Ibu?
Kau kah itu, Ibu? Ibu yang tak kutahu dimana pusaranya,
ibu yang tak pernah kutaburi bunga pada pusaranya. Kau kah itu, Ibu? Kau kah
itu?
Ibu, bila itu memang kau untuk apa mendatangiku? Apa maksud uluran tangan itu? Kau mengajakku?
Apakah kau mulai tersiksa melihatku yang kau tinggal sendiri disini berjuang seorang diri? Atau, kau sudah bosan melihat airmata yang tiada hentinya menetes ini? Ibu, andai kau tau sungguh kekuatan ku mulai terkikis habis, kuatku tak berharga untuk mereka yang kuanggap penting, kuatku tak ternilai untuk mereka yang kuanggap berharga.
Bolehkah ku sambut uluran tanganmu, itu?
Ibu, aku ingin pulang. Bolehkah?
Mereka semua jahat. Ya, Jahat.
Dari aku yang mengaku puterimu, yang kerap kau kunjungi dalam gelap
aku akan mengirimimu surat lagi setelah ini
akan kuceritakan lebih banyak lagi
agar kau tau sekuat apa aku, dan selemah apa aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar