Sudah sangat lama, sudah berbau busuk, mungkin. Tulisan ini mungkin hanya seonggok kisah kelam, yang sudah abu-abu dan memudar dalam memory ingatanmu. Haaah, jangankan kisah kita, wajahku saja pun mungkin telah samar-samar untuk dapat kamu kenali. Sore yang berhujan ini, aku memberanikan diri untuk menaikkan mu dalam tulisanku, aku tak ingin memendam mu hanya didalam sisa bagian terkecil hati yang kerap kamu singgahi beberapa waktu belakangan ini tanpa undangan resmi berpita merahjambu.
Tenang saja, aku takkan menyebut namamu secara terang-terangan disini. Karena, jujur saja aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal gila seperti itu. Aku hanya sedikit merindukan mu. Sedikit? Entahlah, sebut saja begitu. Aku tak tahu pasti sudah berapa lama kita berpisah, karena aku tak begitu hobby untuk menghitung perpisahan. Ini kali kedua aku mulai benar merindukanmu, rindu yang disebabkan oleh ratusan bahkan jutaan tetes air yang turun dari langit hitam yang sedang bermuram-durja.
Tak bisa menyalahkan hujan, bagaimana kalau kamu saja yang aku persalahkan sebagai penyebab kerinduan ku ini? Kamu yang kerap datang tiba-tiba, mengendap-endap masuk dan merusak sistem kerja dalam otakku, kamu yang menawarkan aku masuk dalam ruang mesin waktu masa lampau, kamu yang menarikku untuk tertawa bersama melihat tayangan ulang manisnya kisah kita, dulu. Dan, kamu pula yang tiba-tiba meninggalkan aku menangis dalam kesendirian, lalu memaksa ku seketika untuk sadar bahwa semua telah lama berakhir.
Apa kamu tahu, sayang. Airmata ku kerap hadir dikala kamu singgah dalam hujan dan terbawa ke mimpi ku dalam malam, kamu yang datang tanpa salam, lalu pergi tanpa pamit. Apa kamu tau, airmata yang mengalir dalam diam itupun bahkan kering dengan sendirinya dikeesokan hari, namun, tetap saja aku masih merasa nyeri yang hebat dari sebuah dentuman keras pada ulu hati ini. Disebut apa ini? Terjebak nostalgia?konyol! Apa kamu tak bosan berlari-larian seperti itu didunia ku yang kecil ini?
Baik, aku mengaku. Aku yang salah tak begitu rapat mengunci mu dalam botol penyimpanan masa lalu. Aku yang terkadang masih menanyakan kabar mu dari akun facebook, atau akun twitter kepunyaan mu. Tapi, apa salah? Aku tak berniat mengusik mu apalagi sampai mengacaukan dunia baru mu itu, tidak. Aku sudah menjadi lebih kuat dari sebelum-sebelumnya saat kita baru berpisah dulu, aku juga memiliki dunia baru dan sempat menjalin hubungan dengan beberapa pria yang mampu memberikan ku tempat yang cukup nyaman seperti mu dulu, meski tak pernah bertahan lama, tapi setidaknya aku mampu membuka hati, bukan?
Kamu harus tahu, sayang.
Bukan aku menginginkan mu kembali (lagi), aku tak ingin disebut sebagai perempuan gagal move on apalagi yang susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang susah, aku juga bukan tak mampu melepaskan mu, bukan aku tak mampu merelakan mu, bukan. Aku hanya tak mampu melihat kita yang sekarang hidup seperti 2 kubu perang yang tak mampu diperdamaikan oleh pihak manapun, aku hanya ingin kita berdamai dalam "pertemanan" bukan "musuh". Kalau memang tak bisa dipersatukan dalam Cinta, mengapa tak dipersatukan dalam partner teman baik? Aku pun tak akan menolak bila seandainya kamu berbaik hati mengajarkan ku bagaimana cara untuk mempertahankan hubungan dalam waktu lama, sama seperti mu.
Sudahlah, tak baik rasanya berlama-lama bercerita panjang lebar tentang kamu, yang sudah menjadi hak kepemilikan orang lain, Selamat berbahagia dengan kehidupan baru mu sekarang ya. Tolong, jangan hadir lagi disela-sela hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar