Laman

Rabu, 08 April 2015

Ibu, aku ingin pulang.

            Dingin.

            Sunyi.

            Gelap.

            Mimpi itukah lagi? Aku merapatkan kedua tanganku, menggesekkan satu dengan yang lain, demi kehangatan semu menepis dingin. Sia-sia, tubuhku kian menggigil. Aku mulai membeku. Kepala ku berat, mataku tak mampu melihat jelas, tapi pada satu titik kudapati sebuah cahaya putih, dan dibalik cahaya itu berdiri seorang pria, tidak itu seperti wanita, ahh entahlah. Sosoknya mengulurkan tangan, apa maksud uluran tangan itu? Segalanya mendadak berubah menjadi samar-samar, semakin gelap. Dan, aku lupa.

            Akhir-akhir ini, tidurku tak begitu lelap.

            Otak ku mulai berfikir keras, apa maksud dari mimpi tak jelas itu, apa ada hubungannya dengan tumpukan rindu yang semakin menggunung belakangan ini. Mengenai rindu seorang gadis yang beranjak dewasa kepada wanita paruh baya yang seharusnya masih ada, namun ternyata telah pergi tanpa pamit meninggalkan puteri kecilnya yang saat itu tak mempunyai nama?

           Siapa sosok yang hadir dalam cahaya itu? Kau kah itu, Ibu?

          Kau kah itu, Ibu? Ibu yang tak kukenal bagaimana rupanya, ibu yang tak kutahu namanya, ibu yang tak kutahu bermargakan apa dan bersuku apa, ibu yang tak pernah kurasa airsusunya, ibu yang tak pernah memukul bokongku, ibu yang tak pernah mengepang duakan rambutku, ibu yang tak pernah mencium keningku sebelum tidur malam, ibu yang tak pernah membacakan aku dongeng tentang sikancil, ibu yang tak pernah mengajarkan ku mengucap kata “I B U”. Kau kah itu, Ibu? 

          Kau kah itu, Ibu? Ibu yang tak kutahu dimana pusaranya, ibu yang tak pernah kutaburi bunga pada pusaranya. Kau kah itu, Ibu? Kau kah itu?

            Ibu, bila itu memang kau untuk apa mendatangiku? Apa maksud uluran tangan itu? Kau mengajakku?
           
           Apakah kau mulai tersiksa melihatku yang kau tinggal sendiri disini berjuang seorang diri? Atau, kau sudah bosan melihat airmata yang tiada hentinya menetes ini? Ibu, andai kau tau sungguh kekuatan ku mulai terkikis habis, kuatku tak berharga untuk mereka yang kuanggap penting, kuatku tak ternilai untuk mereka yang kuanggap berharga.

            Bolehkah ku sambut uluran tanganmu, itu?

            Ibu, aku ingin pulang. Bolehkah?

            Mereka semua jahat. Ya, Jahat.




Dari aku yang mengaku puterimu, yang kerap kau kunjungi dalam gelap
aku akan mengirimimu surat lagi setelah ini
akan kuceritakan lebih banyak lagi
agar kau tau sekuat apa aku, dan selemah apa aku.

Senin, 06 April 2015

Untukmu, Pria berkuda besi.

Untukmu, Pria berkuda besi merah.

Ditempat itu, tempat pertama kali kita bertemu. 
Baris kelima di sebelah kiri, tempat dimana aku menemukan mu, ketika aku membuka mata selepas mengucap salam pada-Nya. Sebelumnya, aku tak begitu suka duduk ditempat itu, tapi karena ayahku menyukainya, aku bisa apa?
Baik, harus ku akui sekarang. Aku mulai menyukai tempat itu, karenamu.

Kau tau, tuan?
Belakangan ini kau begitu banyak menyita perhatianku, diam-diam, kau menyusup masuk dalam dunia kecilku. Memikirkanmu sajapun sudah menjadi salah satu list pada daftar rutinitas yang harus kulakukan setiap harinya, sekarang. Lihatlah, betapa tak ingin kalah nya kau, tuan.

Semalam, aku mencarimu ditempat biasa, diparkiran sebelah kanan, tempat mu biasa memarkirkan kuda merahmu. Kau kemana? Mengapa tak datang? Ya, aku mencari mu.

Tuan, sulit untukku menjelaskan secara gamblang, apa hal yang membuatku menunggu mu, yang jelas semenjak malam natal tahun lalu, ketika aku ada ditempat itu, aku juga begitu berharap kau juga ada ditempat yang sama denganku. Jujur, aku tidak begitu mengenalmu, bahkan hal kecil dari dirimu pun aku tak tahu. Nama mu, aku tak tahu. Mungkin, sebahagian besar orang akan menertawakan keanehan ku ini, menganggap ku perempuan aneh, yang memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkan ku juga. Tapi, tuan, salahkah perempuan aneh seperti ku ini mengagumi salah satu hasil karya tangan Tuhan, sepertimu?

Aku memang tak mengetahui banyak hal tentang mu, yang kutau, kau adalah pria menggemaskan yang sosoknya selalu kurindu pada setiap hari minggu, yang kerap menghadirkan letupan-letupan kecil dihatiku. Yang kutau, kau pria berkuda besi berwarna merah, dengan penutup kepala fullface berwarna hijau. Dan, yang lebih kutahu, kau adalah pria pecinta kitab suci, kidung nyanyian, dan pecinta Tuhan-Mu, sama seperti ku.

Waktu lalu, aku sempat berfikir, kau hanya laki-laki  biasa yang menjual tampang dan memamerkan kuda besi untuk memikat hati perempuan-perempuan seperti kebanyakan yang terjadi, namun, kau memperlihatkan ku sebuah fakta yang berbeda, berkali-kali secara tak sengaja aku melihatmu dengan kedua tangan tergenggam tengah asik bercerita dengan-Nya. 

Jumat lalu, tepat hari dimana saat perjamuan kudus tengah berjalan, ingat kah kau, tuan? Ketika aku menyibakkan rambut dan menoleh kearah belakang, kita bertemu, lagi. Dengan kemeja hitam bergaris putih, dengan tataan rambut baru mu itu, kau berdiri menunggu giliran menerima roti dan anggur, sepersekian detiknya kita memiliki kesempatan untuk menatap satu dengan yang lain, kala itu tuan, andai kau tau jantungku berdegup lebih kencang. Aku bergetar, kali itu lebih hebat dari sebelumnya. Kau rasakah?

Tuan, bisakah kau jelaskan perasaan apa ini?



Untukmu, Pria berkuda besi berwarna merah.
dari, wanita aneh berambut pirang yang menunggumu setiap Minggunya.