Seseorang pernah berkata, “how lucky
she is, disayangi dengan begitu dalamnya, dikasihi dengan begitu manisnya.”
Hari ini adalah dua hari terakhir dipenghujung
bulan penghujan, mei. Menulis inipun sebenarnya aku tak begitu ingin, rasanya
malas, muak dan membuatku seakan ingin muntah. Tapi, rasa malas itu tertendang
seketika ketika dengan tidak sengaja tangan ku membuka sebuah folder bernama “island”
berisi 716 object foto. Satu persatu ku buka, harus kuakui kegelian seketika
menggelitik perutku, bibir ku tak henti mengeluarkan suara tawa, meski kecil. Sampai
pada akhirnya, setetes bening hangat jatuh perlahan, berkaca-kaca merenggut
tawa.
Hari ini, kuingat lagi luka yang
semalam baru tercipta sebelum luka lama beranjak sembuh. Gelap dan 2 tungkai
kaki yang menjadi saksi, tetes demi tetes sang hujan yang menyatu dengan hujan
air mata, dan bunyi ratusan klakson yang meredam isakan tangis sesunggukan
sepanjang jalan. Kau melewatkan ku, kau melewatkanku!
Kemarahan mu waktu itu tidak menjadi
alasan kuat untuk berlaku tidak adil untukku, kemarahan, kekesalan mu waktu itu
tidak berhak melukai ku terlalu dalam seperti yang kau lakukan ini, kau
melewatkan ku dan ini bukan kali pertama kau melakukannya. Bohong bila aku tak
menoleh kebelakang sepanjang jalan, palsu bila aku tak berharap-harap cemas dalam hati, barang kali kau
akan memintaku untuk berhenti meski lewat telephone sekalipun. Tapi, aku hanya si pungguk
yang merindukan sang bulan!
Kita pernah bersama, sebelas bulan
lamanya. 334 hari lamanya.
Sungguh, menjadi tanya besar, dimana
letak salah ku yang paling fatal sehingga kau begitu dengan mudahnya melukai
ku, membiarkan seseorang yang pernah kau janjikan kebersamaan dalam hal apapun itu, membiarkan pergi seseorang yang pernah menjadi teman bicara mu mengakhiri
malam di ujung telephone, seseorang yang pernah menjadi teman bertengkar mu
dalam menilai sesuatu, seseorang yang pernah kau buat dan membuat mu tertawa,
seseorang yang pernah kau buat cemburu dan membuat mu cemburu, seseorang yang
rela menghabiskan waktu melakukan hal-hal konyol dengan mu, seseorang yang
pernah meminta mu untuk tidak pergi meski akhirnya kau memilih pergi, tanpa
ucapan berpisah sekalipun.
Untuk apa membuat dirimu seolah-olah
terlihat bodoh demi mengetahui segalanya, meski tanpa berlaku seperti itu pun
kau akan tetap tahu isi sebuah hati yang ingin kau tahu leih mendalam. Jangan membuat
ku seperti pembohong. Jangan pula memintaku untuk berlakon seperti bintang
sinetron yang dengan pandai nya mendramatisir segalanya. Aku bukan pesinetron
yang handal. Aku tak bisa.
Baik, aku sudah lupa berapa kali
memintamu untuk tetap tinggal, aku lupa sudah berapa kali meyakinkan mu bahwa
menunggu kepulangan seseorang yang tidak menjadikan ku rumah adalah hal yang
menyedihkan, sampai-sampai aku lupa, kau pun tidak akan pernah meletakkan
sebentar saja gengsi dalam dirimu, aku lupa, kau bisa mati tanpa gengsi itu, ya
aku lupa.
Pergilah, ini kesempatanmu berlari
jauh bila memang kau sudah tak ingin berlama-lama dengan ku. Pergilah, tidak
perlu kembali. Aku akan menata hidup ku kembali lagi dari awal. Pergilah, ku
sanggupi perpisahan yang aku sendiri tidak tau siapa yang memintanya lebih dulu.
Pergilah, bdtpsk! Maaf untuk segalanya.
Untukmu, Hitam.
Perempuan berjari mungil ukuran 15. a.k.a RS
dari, grllcklt yang bersalah.